BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapribadi
atau komunikasi intrapersonal
adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator
sendiri antara diri sendiri dengan suatu subyek yang
tidak nampak. Seorang
individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi
dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi
intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya.
Menurut Onong U. Effendy komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang
berlangsung dalam diri seseorang. Orang ini berperan baik sebagai komunikator maupun
sebagai komunikan, dia berbicara pada dirinya sendiri, berdialog dengan dirinya
sendiri, dia bertanya kepada dirinya sendiri, dan dijawab oleh dirinya sendiri.
Menurut Jalaluddin Rakhmat komunikasi intrapersonal adalah suatu proses
pengolahan infromasi meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Tipe
komunikasi intrapribadi atau intrapersonal sama dengan proses berpikir, yaitu
ketika seseorang secara sadar (sengaja) mengirimkan informasi pada dirinya
untuk menganalisis sebuah situasi dan mengambil sikap atau keputusan. Contoh
komunikasi intrapersonal adalah ketika seseorang ingin membeli ice cream di
sebuah toko, ia melihat ada banyak pilihan rasa ice cream di toko tersebut.
Kemudian ia berfikir untuk memutuskan rasa seperti apa yang ia inginkan, apakah
rasa baru atau membeli rasa favoritnya. Mampu berdialog dengan dirinya sendiri,
menunjukkan bahwa seseorang mampu mengenali dan memahami dirinya sendiri.
2.2 Sensasi
Sensasi adalah tahap
paling awal dalam penerimaan informasi. Sensasi berasal dari
kata “sense”, artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan
lingkungannya. Dennis Coon (1977:79) mengatakan “bila alat-alat indra mengubah
informasi menjadi impuls-impuls saraf dengan ‘bahasa’ yang dipahami
(‘komputer’) otak maka terjadilah proses sensasi. Sedangkan menurut Benyamin B.
Wolman (1973: 3443) “sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang
tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama
sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra.
Fungsi alat indra dalam
menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan
semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Seorang filsuf bernama John
Locke beranggapan bahwa “there is nothing
in the mind except what wa first in the sense” (tidak ada apa-apa dalam
jiwa kita kecuali harus lebih dulu lewat alat indra). Filusuf lain, Berkeley,
beranggapan bahwa andaikan kita tidak mempunyai alat indra, dunia ini tidak
akan ada.
Psikologi menyebut ada
sembilan alat indra yaitu penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular,
perabaan, temperature, rasa sakit, perasa, dan penciuman. Dapat dikelompokkan pada tiga macam indra penerima, sesuai sumber
informasi.
Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari
dalam diri individu sendiri (internal). Informasi dari luar
diindra oleh eksteroseptor (misalnya telinga atau mata). Informasi dari dalam diindra oleh interoseptor (misalnya sistem
peredaran darah). Selain itu, gerakan
tubuh kita sendiri diindra oleh proprioseptor (misalnya organ vestibular).
Apa saja yang menyentuh
alat indra dari dalam atau dari luar disebut stimulus. Stimulus yang diubah
menjadi energi saraf disampaikan ke otak melalui proses transduksi. Agar dapat
diterima pada alat indra, stimulus harus cukup kuat. Batas minimal stimulus disebut ambang mutlak (absolute threshold).
Ketajaman sensasi
ditentukan oleh faktor-faktor personal. Pada tahun 30-an, beberapa orang
peneliti menemukan bahwa phenylthiocarbomide (ptc) yang terasa pahit bagi
sebagian orang, tidak pahit bagi yang lain. Brakseley, seorang peneliti
mengatakan “we live in different taste
worlds”.
Banyak orang mengetahui bahwa masakan Padang yang sangat pedas bagi
orang Jawa, ternyata biasa-biasa saja bagi orang Sumatera Barat. Perbedaan sensasi dengan begitu dapat disebabkan oleh perbedaan
pengalaman atau lingkungan budaya, disamping kapasitas alat indra yang berbeda.
2.3 Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau
hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan
pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimulus
indrawi. Hubungan sensasi dengan persepsi yaitu sensasi
adalah bagian dari persepsi. Ada yang dinamakan kekeliruan persepsi, ada
salah persepsi. Kekeliruan persepsi dapat dicontohkan jika
seseorang memanggil teman sekelasnya, namun orang itu ternyata adalah orang
asing yang baru saja dikenal. Kesalahan persepsi dicontohkan ketika
seseorang mengucapkan kata “nasi”, tetapi orang lain mendengarnya “asi”. Persepsi ditentukan oleh tiga faktor yakni
perhatian, faktor fungsional dan faktor structural.
1) Faktor perhatian
Perhatian terjadi bila seseorang
mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indranya, dan mengesampingkan masukan-masukan
melalui alat indra yang lain.
a.
Faktor eksternal penarik perhatian
Faktor eksternal penarik perhatian yang pertama adalah gerakan. Seperti
organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang
bergerak. Kedua, intensitas stimuli. Seseorang akan memperhatikan stimuli yang
lebih menonjol dari stimuli yang lain. Ketiga, kebaruan (novelty). Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan
menarik perhatian. Beberapa eksperimen juga membuktikan stimuli yang luar biasa
lebih mudah dipelajari atau diingat.Keempat, perulangan. Hal-hal yang disajikan
berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian.
b.
Faktor internal pengaruh perhatian
Apa yang menjadi perhatian seseorang lolos dari perhatian orang lain,
atau sebaliknya. Ada kecenderungan seseorang melihat apa yang ingin dilihatnya,
dan mendengar apa yang ingin didengarnya. Perbedaan ini timbul dari
faktor-faktor yang ada dalam diri manusia. Contoh faktor yang mempengaruhi perhatian yang
pertama yakni faktor biologis (rasa lapar). Dalam keadaan lapar, seluruh pikiran
didominasi oleh makanan. Karena itu, bagi orang lapar, yang paling
menarik perhatiannya adalah makanan. Yang kenyang akan menaruh perhatian pada
hal-hal yang lain. Kedua, yakni faktor sosiopsikologis (hal-hal
yang diperhatikan). Contohnya berikan sebuah foto yang
menggambarkan kerumunan orang banyak di sebuah jalan sempit. Tanyakan apa yang
mereka lihat. Setiap orang akan melaporkan hal yang berbeda. Tetapi, seorang
pun tidak akan dapat melaporkan berapa orang yang terdapat pada gambar itu,
kecuali kalau sebelum melihat foto mereka memperoleh pertanyaan itu.
2)
Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman,
masa lalu dan hal-hal yang termasuk faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau
bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli
itu. Dalam suatu eksperimen, Levine, Chein dan
Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok
mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok
mahasiswa yang lapar daripada kelompok mahasiswa yang kenyang. Persepsi yang
berbeda ini tidak disebabkan oleh stimuli, karena gambar yang disajikan sama
pada kedua kelompok. Perbedaan persepsi itu bermula pada kondisi biologis
mahasiswa. Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai
kerangka rujukan. Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan
mempengaruhi bagaimana orang member makna pada pesan yang diterimanya.
Berbicara tentang flour albus, kanker
cerviks di muka ahli komunikasi, tidak akan menimbukan pengertian apa-apa.
Mereka tidak memiliki kerangka rujukan untuk memahami istilah-istilah
kedokteran tersebut. Begitu pula mahasiswa kedokteran akan sukar memahami
pembicaraan tentang teori-teori komunikasi, bila mereka tidak memiliki latar
belakang pendidikan dalam ilmu komunikasi.
3)
Faktor-faktor structural yang menentukan persepsi
Faktor-faktor structural berasal semata-mata
dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem
saraf individu. Para psikolog Gestalt, seperti Kohler,
Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat
structural. Prinsip-prinsip ini kemudian dikenal dengan nama teori Gestalt.
Menurut teori Gestalt, bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya
sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak melihat
bagian-bagiannya. Jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat
meneliti fakta-fakta yang terpisah melainkan kita harus memandangnya dalam
hubungan keseluruhan.
2.4 Memori
Schlessinger dan Groves (1976:352) mendefinisikan “memori adalah sistem
yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta
tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.”
Secara singkat, memori melewati tiga proses yakni perekaman, penyimpanan, dan
pemanggilan. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor
indera dan sirkit saraf internal. Penyimpanan (storage) adalah menentukan
berapa lama informasi itu berada, dalam bentuk apa, dan dimana. Pemanggilan
(retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi
yang disimpan (Mussen dan Rosenzweig, 1973:499).
a. Jenis-jenis memori
Seseorang tidak menyadari pekerjaan memori
pada dua tahap yang pertama. Seseorang hanya mengetahui memori pada tahap
ketiga yakni pemanggilan kembali. Pemanggilan diketahui dengan empat cara:
1)
Pengingatan (recall)
Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta dan informasi secara kata demi kata, tanpa
petunjuk yang jelas.
2)
Pengenalan (recognition)
Sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta, lebih mudah mengenalnya kembali.Pilihan
berganda (multiple-choice) dalam tes objektif menuntut pengenalan, bukan
pengingatan.
3)
Belajar lagi (relearning)
Menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah diperoleh termasuk
pekerjaan memori. Mempelajari yang sudah dipelajari akan lebih cepat.
4)
Redintegrasi (redintegration)
Redintegrasi ialah merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk
kecil
b. Mekanisme memori
Ada tiga teori yang menjelaskan memori yakni
teori aus, teori interferensi, dan teori pengolahan informasi.
1)
Teori aus (Disuse theory)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Willism
James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer
one’s ability to memorzize” makin sering mengingat, makin jelek kemampuan
mengingat (Hunt, 1982:94).
2)
Teori interferensi (Interference theory)
Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas .Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin
atau kanvas itu. Jika misalnya dalam kanvas itu terekam hukum relativitas dan
segera itu mencoba merekam hukum medan gabungan, yang kedua akan menyebabkan
terhapusnya rekaman yang pertama atau mengaburkannya. Ini disebut interferensi.
Inhibisi retroaktif (hambatan ke belakang) terjadi jika seseorang
misalnya menghafal halaman pertama dalam kamus Inggris-Indonesia, lalu
berhasil. Kemudian menghafal halaman kedua, berhasil juga. Akan tetapi yang diingat pada halaman pertama
berkurang.Inilah yang disebut inhibisi retroaktif. Lebih sering mengingat, lebih jelek daya ingat
kita. Ini disebut inhibisi proaktif (hambatan ke depan).
3)
Teori pengolahan informasi (Information theory)
Secara singkat, teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan
pada sensory storage (gudang
inderawi), kemudian masuk short-term
memory (memori jangka pendek), lalu dilupakan atau dikoding untuk
dimasukkan kedalam long-term memory
(memori jangka panjang). Otak manusia dianalogikan dengan computer.
Sensory storage lebih merupakan proses perseptual daripada
memori. Ada dua macam memori yakni memori ikonis untuk materi yang diperoleh
secara visual, dan memori ekosis untuk materi yang masuk secara auditif
(melalui pendengaran). Sensory storage menyebabkan seseorang
melihat rangkaian gambar seperti bergerak ketika menonton film.
Supaya dapat diingat, informasi harus disandi (encoded) dan masuk pada short-term memory. Short term memory sangat terpengaruh interferensi. Short-term memory hanya mampu mengingat tujuh (plus atau minus dua) bit informasi. Jumlah
bit informasi ini disebut rentangan memori (memori span). Untuk mengingatkan
kemampuan short-term memory para psikolog
menganjurkan untuk mengelompokkan informasi; kelompoknya disebut chunk.
Ingatan adalah apabila informasi yang berhasil dipertahankan pada short-term memory masuk ke dalam long-term memory.Long-term memory meliputi periode penyimpanan informasi sejak
semenit sampai seumur hidup. Kita dapat memasukkan informasi dari short-term memory ke long-term memory dengan membagi dalam
beberapa kelompok. Rehearsals (mengaktifkan short-term memory
untuk waktu yang lama dengan mengulang-ulangnya), clustering (mengelompokkan dalam konsep-konsep), atau method of loci (memvisualisasikan dalam
benak seseorang materi yang harus diingatnya).
2.5 Berpikir
Dalam berpikir
melibatkan semua proses yang telah disebutkan di atas yaitu sensasi, persepsi,
dan memori. Misalnya dalam mengerjakan suatu soal matematika, pertama kita akan
menangkap tulisan dan gambar (sensasi), kita membaca dan mencoba memahami apa
yang diminta (persepsi), pada saat membongkar memori untuk memahami apa yang
disebut dengan garis lurus, segi empat dan kemungkinan soal yang sama pada masa
lalu (memori). Secara garis besar ada dua macam berpikir yakni berpikir
autistik dan berpikir realistik. Dengan berpikir
autistik (melamun) orang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup
sebagai gambar-gambar fantasi. Sedangkan berpikir
realistik ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata.
Floyd L. Ruch menyebutkan ada tiga macam berpikir realistik, yaitu:
1) Berpikir deduktif
Berpikir
deduktif adalah mengambil keputusan dari dua pernyataan, yang
pertama merupakan pernyataan umum pada hal-hal khusus, dalam logika disebut
silogisme.
2) Berpikir indukstif
Berpikir induktif dimulai dari hal-hal khusus, kemudian mengambil kesimpulan
umum dan melakukan generalisasi. Contoh: Saya bertemu si A murid SMA N 14
Bandar Lampung yang pandai bicara, saya bertemu si B, C dan D murid SMA N 14
Bandar Lampung pandai bicara, saya menyimpulkan bahwa murid SMA N 14 Bandar
Lampung pandai bicara.
3) Berpikir evaluatif
Berpikir
evaluatif adalah berpikir kritis, menilai baik buruknya, tepat
atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir
evaluatif seseorang dapat mengurangi atau menambah gagasan menurut kriteria
tertentu.
Berpikir dilakukan
untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru (creativity).
a. Menetapkan keputusan (Decision
making)
Salah satu fungsi berpikir ialah
menetapkan keputusan. Setiap keputusan yang diambil, akan disusul oleh
keputusan-keputuusan lainnya yang berkaitan. Keputusan yang seseorang ambil beraneka ragam. Tetapi ada tanda-tanda
umumnya: (1) keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual; (2)
keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif; (3) keputusan
selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan
atau dilupakan. Faktor-faktor
personal amat menentukan apa yang diputuskan itu, antara lain kognisi, motif
dan sikap. Kognisi artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki.
Bila ia tahu bahwa daerah X
berbahaya, ia
akan memutuskan tidak akan datang ke sana. Motif amat mempengaruhi pengambilan
keputusan. Bila seseorang
ingin memperoleh posisi yang penting di kantor
X, ia
memutuskan untuk bekerja sama dengan Q. Sikap juga faktor penentu lainnya. Bila
sikap seseorang negatif terhadap kaum
buruh, ia tentu memutuskan untuk
tidak menggubris protes mereka. Pada kenyataannya, kognisi, motif, dan sikap
ini berlangsung sekaligus.
b.
Memecahkan
persoalan (Problem solving)
Beberapa
penelitian telah membuktikan pengaruh faktor-faktor biologis dan
sosiopsikologis terhadap proses pemecahan
masalah. Simpanse yang
terlalu lapar tidak mampu memecahkan masalah; simpanse yang setengah lapar
mampu memecahkan masalah dengan cepat. Manusia yang kurang tidur mengalami
kemampuan berpikir; begitu pula bila ia terlalu lelah. Ini adalah contoh faktor
biologis. Sama pentingnya juga adalah faktor-faktor sosiopsikologis yakni
sebagai berikut:
1)
Motivasi. Motivasi yang rendah mengalihkan
perhatian. Motivasi yang tinggi
membatasi fleksibilitas. Karena terlalu tegang menghadapi ujian, ia tidak sanggup menjawab
pertanyaan pada tes.
2)
Kepercayaan dan sikap
yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan
seseorang. Bila ia percaya bahwa kebahagian dapat diperoleh dengan kekayaan
material, ia
akan mengalami kesulitan ketika memecahkan
penderitaan batinnya.
3)
Kebiasaan.
Kecenderungan untuk melihat pola berpikir tertentu, atau melihat masalah hanya
dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada
pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah
yang efesien.
4)
Emosi. Dalam menghadapi
berbagai situasi, tanpa sadar seseorang sering
terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir. Seseorang tidak pernah dapat
berpikir betul-betul objektif. Sebagai manusia yang utuh, tidak dapat mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi
bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi sehingga menjadi stress,
barulah menjadi sulit untuk berpikir
efisien.
c.
Berpikir kreatif
(Creative thinking)
Berpikir
kreatif harus memenuhi tiga syarat. Pertama, kreativitas melibatkan respons atau gagasan yang baru, atau yang
secara statistik sangat
jarang terjadi. Tetapi kebaruan saja tidak cukup. Syarat kedua kreativitas
ialah dapat memecahkan persoalan secara realistis. Ketiga kreativitas merupakan
usaha untuk mempertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya
sebaik mungkin (MacKinnon, 1962:485).
Ada beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif
(Coleman dan Hammen, 1974:455):
1) Kemampuan
kognitif: termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan
gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
2) Sikap
yang terbuka: orang kreatif
mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal; ia
memiliki minat yang beragam dan luas.
3)Sikap yang bebas,
otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang “digiring” ia ingin menampilkan
dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terlalu terikat pada konvensi-konvensi
sosial.