Sabtu, 08 April 2017

Sensasi, persepsi, memori dan berpikir dalam komunikasi intrapersonal









BAB II
PEMBAHASAN


2.1  Pengertian Komunikasi Intrapersonal
Komunikasi intrapribadi atau komunikasi intrapersonal adalah penggunaan bahasa atau pikiran yang terjadi di dalam diri komunikator sendiri antara diri sendiri dengan suatu subyek yang tidak nampak. Seorang individu menjadi pengirim sekaligus penerima pesan, memberikan umpan balik bagi dirinya sendiri dalam proses internal yang berkelanjutan. Komunikasi intrapersonal dapat menjadi pemicu bentuk komunikasi yang lainnya.
Menurut Onong U. Effendy komunikasi intrapersonal adalah komunikasi yang berlangsung dalam diri seseorang. Orang ini berperan baik sebagai komunikator maupun sebagai komunikan, dia berbicara pada dirinya sendiri, berdialog dengan dirinya sendiri, dia bertanya kepada dirinya sendiri, dan dijawab oleh dirinya sendiri.
Menurut Jalaluddin Rakhmat komunikasi intrapersonal adalah suatu proses pengolahan infromasi meliputi sensasi, persepsi, memori dan berpikir. Tipe komunikasi intrapribadi atau intrapersonal sama dengan proses berpikir, yaitu ketika seseorang secara sadar (sengaja) mengirimkan informasi pada dirinya untuk menganalisis sebuah situasi dan mengambil sikap atau keputusan. Contoh komunikasi intrapersonal adalah ketika seseorang ingin membeli ice cream di sebuah toko, ia melihat ada banyak pilihan rasa ice cream di toko tersebut. Kemudian ia berfikir untuk memutuskan rasa seperti apa yang ia inginkan, apakah rasa baru atau membeli rasa favoritnya. Mampu berdialog dengan dirinya sendiri, menunjukkan bahwa seseorang mampu mengenali dan memahami dirinya sendiri.




2.2  Sensasi
Sensasi adalah tahap paling awal dalam penerimaan informasi. Sensasi berasal dari kata “sense”, artinya alat penginderaan, yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Dennis Coon (1977:79) mengatakan “bila alat-alat indra mengubah informasi menjadi impuls-impuls saraf dengan ‘bahasa’ yang dipahami (‘komputer’) otak maka terjadilah proses sensasi. Sedangkan menurut Benyamin B. Wolman (1973: 3443) “sensasi adalah pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra.
Fungsi alat indra dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indra, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu, melalui alat indralah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Seorang filsuf bernama John Locke beranggapan bahwa “there is nothing in the mind except what wa first in the sense” (tidak ada apa-apa dalam jiwa kita kecuali harus lebih dulu lewat alat indra). Filusuf lain, Berkeley, beranggapan bahwa andaikan kita tidak mempunyai alat indra, dunia ini tidak akan ada.
Psikologi menyebut ada sembilan alat indra yaitu penglihatan, pendengaran, kinestesis, vestibular, perabaan, temperature, rasa sakit, perasa, dan penciuman. Dapat dikelompokkan pada tiga macam indra penerima, sesuai sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri individu sendiri (internal). Informasi dari luar diindra oleh eksteroseptor (misalnya telinga atau mata). Informasi dari dalam diindra oleh interoseptor (misalnya sistem peredaran darah). Selain itu, gerakan tubuh kita sendiri diindra oleh proprioseptor (misalnya organ vestibular).
Apa saja yang menyentuh alat indra dari dalam atau dari luar disebut stimulus. Stimulus yang diubah menjadi energi saraf disampaikan ke otak melalui proses transduksi. Agar dapat diterima pada alat indra, stimulus harus cukup kuat. Batas minimal stimulus disebut ambang mutlak (absolute threshold).
Ketajaman sensasi ditentukan oleh faktor-faktor personal. Pada tahun 30-an, beberapa orang peneliti menemukan bahwa phenylthiocarbomide (ptc) yang terasa pahit bagi sebagian orang, tidak pahit bagi yang lain. Brakseley, seorang peneliti mengatakan “we live in different taste worlds”. Banyak orang mengetahui bahwa masakan Padang yang sangat pedas bagi orang Jawa, ternyata biasa-biasa saja bagi orang Sumatera Barat. Perbedaan sensasi dengan begitu dapat disebabkan oleh perbedaan pengalaman atau lingkungan budaya, disamping kapasitas alat indra yang berbeda.

2.3  Persepsi
Persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimulus indrawi. Hubungan sensasi dengan persepsi yaitu sensasi adalah bagian dari persepsi. Ada yang dinamakan kekeliruan persepsi, ada salah persepsi. Kekeliruan persepsi dapat dicontohkan jika seseorang memanggil teman sekelasnya, namun orang itu ternyata adalah orang asing yang baru saja dikenal. Kesalahan persepsi dicontohkan ketika seseorang mengucapkan kata “nasi”, tetapi orang lain mendengarnya “asi”. Persepsi ditentukan oleh tiga faktor yakni perhatian, faktor fungsional dan faktor structural.

1)      Faktor perhatian
Perhatian terjadi bila seseorang mengkonsentrasikan diri pada salah satu alat indranya, dan mengesampingkan masukan-masukan melalui alat indra yang lain.
a.       Faktor eksternal penarik perhatian
Faktor eksternal penarik perhatian yang pertama adalah gerakan. Seperti organisme yang lain, manusia secara visual tertarik pada objek-objek yang bergerak. Kedua, intensitas stimuli. Seseorang akan memperhatikan stimuli yang lebih menonjol dari stimuli yang lain. Ketiga, kebaruan (novelty). Hal-hal yang baru, yang luar biasa, yang berbeda, akan menarik perhatian. Beberapa eksperimen juga membuktikan stimuli yang luar biasa lebih mudah dipelajari atau diingat.Keempat, perulangan. Hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit variasi, akan menarik perhatian.
b.      Faktor internal pengaruh perhatian
Apa yang menjadi perhatian seseorang lolos dari perhatian orang lain, atau sebaliknya. Ada kecenderungan seseorang melihat apa yang ingin dilihatnya, dan mendengar apa yang ingin didengarnya. Perbedaan ini timbul dari faktor-faktor yang ada dalam diri manusia. Contoh faktor yang mempengaruhi perhatian yang pertama yakni faktor biologis (rasa lapar). Dalam keadaan lapar, seluruh pikiran didominasi oleh makanan. Karena itu, bagi orang lapar, yang paling menarik perhatiannya adalah makanan. Yang kenyang akan menaruh perhatian pada hal-hal yang lain. Kedua, yakni faktor sosiopsikologis (hal-hal yang diperhatikan). Contohnya berikan sebuah foto yang menggambarkan kerumunan orang banyak di sebuah jalan sempit. Tanyakan apa yang mereka lihat. Setiap orang akan melaporkan hal yang berbeda. Tetapi, seorang pun tidak akan dapat melaporkan berapa orang yang terdapat pada gambar itu, kecuali kalau sebelum melihat foto mereka memperoleh pertanyaan itu.

2)      Faktor-faktor fungsional yang menentukan persepsi
Faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman, masa lalu dan hal-hal yang termasuk faktor personal. Yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimuli, tetapi karakteristik orang yang memberikan respons pada stimuli itu. Dalam suatu eksperimen, Levine, Chein dan Murphy memperlihatkan gambar-gambar yang tidak jelas kepada dua kelompok mahasiswa. Gambar tersebut lebih sering ditanggapi sebagai makanan oleh kelompok mahasiswa yang lapar daripada kelompok mahasiswa yang kenyang. Persepsi yang berbeda ini tidak disebabkan oleh stimuli, karena gambar yang disajikan sama pada kedua kelompok. Perbedaan persepsi itu bermula pada kondisi biologis mahasiswa. Faktor-faktor fungsional yang mempengaruhi persepsi lazim disebut sebagai kerangka rujukan. Dalam kegiatan komunikasi, kerangka rujukan mempengaruhi bagaimana orang member makna pada pesan yang diterimanya. Berbicara tentang flour albus, kanker cerviks di muka ahli komunikasi, tidak akan menimbukan pengertian apa-apa. Mereka tidak memiliki kerangka rujukan untuk memahami istilah-istilah kedokteran tersebut. Begitu pula mahasiswa kedokteran akan sukar memahami pembicaraan tentang teori-teori komunikasi, bila mereka tidak memiliki latar belakang pendidikan dalam ilmu komunikasi.

3)      Faktor-faktor structural yang menentukan persepsi
Faktor-faktor structural berasal semata-mata dari sifat stimuli fisik dan efek-efek saraf yang ditimbulkannya pada sistem saraf individu. Para psikolog Gestalt, seperti Kohler, Wartheimer, dan Koffka, merumuskan prinsip-prinsip persepsi yang bersifat structural. Prinsip-prinsip ini kemudian dikenal dengan nama teori Gestalt. Menurut teori Gestalt, bila kita mempersepsi sesuatu, kita mempersepsinya sebagai suatu keseluruhan. Dengan kata lain, kita tidak melihat bagian-bagiannya. Jika kita ingin memahami suatu peristiwa, kita tidak dapat meneliti fakta-fakta yang terpisah melainkan kita harus memandangnya dalam hubungan keseluruhan.

2.4  Memori
Schlessinger dan Groves (1976:352) mendefinisikan “memori adalah sistem yang sangat berstruktur, yang menyebabkan organisme sanggup merekam fakta tentang dunia dan menggunakan pengetahuannya untuk membimbing perilakunya.” Secara singkat, memori melewati tiga proses yakni perekaman, penyimpanan, dan pemanggilan. Perekaman (encoding) adalah pencatatan informasi melalui reseptor indera dan sirkit saraf internal. Penyimpanan (storage) adalah menentukan berapa lama informasi itu berada, dalam bentuk apa, dan dimana. Pemanggilan (retrieval), dalam bahasa sehari-hari, mengingat lagi, adalah menggunakan informasi yang disimpan (Mussen dan Rosenzweig, 1973:499).
a.       Jenis-jenis memori
Seseorang tidak menyadari pekerjaan memori pada dua tahap yang pertama. Seseorang hanya mengetahui memori pada tahap ketiga yakni pemanggilan kembali. Pemanggilan diketahui dengan empat cara:
1)      Pengingatan (recall)
Pengingatan adalah proses aktif untuk menghasilkan kembali fakta  dan informasi secara kata demi kata, tanpa petunjuk yang jelas.
2)      Pengenalan (recognition)
Sukar untuk mengingat kembali sejumlah fakta, lebih mudah mengenalnya kembali.Pilihan berganda (multiple-choice) dalam tes objektif menuntut pengenalan, bukan pengingatan.
3)      Belajar lagi (relearning)
Menguasai kembali pelajaran yang sudah pernah diperoleh termasuk pekerjaan memori. Mempelajari yang sudah dipelajari akan lebih cepat.
4)      Redintegrasi (redintegration)
Redintegrasi ialah merekonstruksi seluruh masa lalu dari satu petunjuk kecil

b.      Mekanisme memori
Ada tiga teori yang menjelaskan memori yakni teori aus, teori interferensi, dan teori pengolahan informasi.
1)      Teori aus (Disuse theory)
Menurut teori ini, memori hilang atau memudar karena waktu. Willism James, juga Benton J. Underwood membuktikan dengan eksperimen, bahwa “the more memorizing one does, the poorer one’s ability to memorzize” makin sering mengingat, makin jelek kemampuan mengingat (Hunt, 1982:94).
2)      Teori interferensi (Interference theory)
Menurut teori ini, memori merupakan meja lilin atau kanvas .Pengalaman adalah lukisan pada meja lilin atau kanvas itu. Jika misalnya dalam kanvas itu terekam hukum relativitas dan segera itu mencoba merekam hukum medan gabungan, yang kedua akan menyebabkan terhapusnya rekaman yang pertama atau mengaburkannya. Ini disebut  interferensi.
Inhibisi retroaktif (hambatan ke belakang) terjadi jika seseorang misalnya menghafal halaman pertama dalam kamus Inggris-Indonesia, lalu berhasil. Kemudian menghafal halaman kedua, berhasil juga. Akan tetapi yang diingat pada halaman pertama berkurang.Inilah yang disebut inhibisi retroaktif. Lebih sering mengingat, lebih jelek daya ingat kita. Ini disebut inhibisi proaktif (hambatan ke depan).
3)      Teori pengolahan informasi (Information theory)
Secara singkat, teori ini menyatakan bahwa informasi mula-mula disimpan pada sensory storage (gudang inderawi), kemudian masuk short-term memory (memori jangka pendek), lalu dilupakan atau dikoding untuk dimasukkan kedalam long-term memory (memori jangka panjang). Otak manusia dianalogikan dengan computer.
Sensory storage lebih merupakan proses perseptual daripada memori. Ada dua macam memori yakni memori ikonis untuk materi yang diperoleh secara visual, dan memori ekosis untuk materi yang masuk secara auditif (melalui pendengaran). Sensory storage menyebabkan seseorang melihat rangkaian gambar seperti bergerak ketika menonton film.
Supaya dapat diingat, informasi harus disandi (encoded) dan masuk pada short-term memory. Short term memory sangat terpengaruh interferensi. Short-term memory hanya mampu mengingat tujuh (plus atau minus dua) bit informasi. Jumlah bit informasi ini disebut rentangan memori (memori span). Untuk mengingatkan kemampuan short-term memory para psikolog menganjurkan untuk mengelompokkan informasi; kelompoknya disebut chunk.
Ingatan adalah apabila informasi yang berhasil dipertahankan pada short-term memory masuk ke dalam long-term memory.Long-term memory meliputi periode penyimpanan informasi sejak semenit sampai seumur hidup. Kita dapat memasukkan informasi dari short-term memory ke long-term memory dengan membagi dalam beberapa kelompok. Rehearsals (mengaktifkan short-term memory untuk waktu yang lama dengan mengulang-ulangnya), clustering (mengelompokkan dalam konsep-konsep), atau method of loci (memvisualisasikan dalam benak seseorang materi yang harus diingatnya).

2.5  Berpikir
Dalam berpikir melibatkan semua proses yang telah disebutkan di atas yaitu sensasi, persepsi, dan memori. Misalnya dalam mengerjakan suatu soal matematika, pertama kita akan menangkap tulisan dan gambar (sensasi), kita membaca dan mencoba memahami apa yang diminta (persepsi), pada saat membongkar memori untuk memahami apa yang disebut dengan garis lurus, segi empat dan kemungkinan soal yang sama pada masa lalu (memori). Secara garis besar ada dua macam berpikir yakni berpikir autistik dan berpikir realistik. Dengan berpikir autistik (melamun) orang melarikan diri dari kenyataan, dan melihat hidup sebagai gambar-gambar fantasi. Sedangkan berpikir realistik ialah berpikir dalam rangka menyesuaikan diri dengan dunia nyata. Floyd L. Ruch menyebutkan ada tiga macam berpikir realistik, yaitu:
1)      Berpikir deduktif
Berpikir deduktif adalah mengambil keputusan dari dua pernyataan, yang pertama merupakan pernyataan umum pada hal-hal khusus, dalam logika disebut silogisme.
2)      Berpikir indukstif
Berpikir induktif dimulai dari hal-hal khusus, kemudian mengambil kesimpulan umum dan melakukan generalisasi. Contoh: Saya bertemu si A murid SMA N 14 Bandar Lampung yang pandai bicara, saya bertemu si B, C dan D murid SMA N 14 Bandar Lampung pandai bicara, saya menyimpulkan bahwa murid SMA N 14 Bandar Lampung pandai bicara.
3)      Berpikir evaluatif
Berpikir evaluatif adalah berpikir kritis, menilai baik buruknya, tepat atau tidaknya suatu gagasan. Dalam berpikir evaluatif seseorang dapat mengurangi atau menambah gagasan menurut kriteria tertentu.
Berpikir dilakukan untuk memahami realitas dalam rangka mengambil keputusan (decision making), memecahkan persoalan (problem solving), dan menghasilkan yang baru (creativity).

a.       Menetapkan keputusan (Decision making)
Salah satu fungsi berpikir ialah menetapkan keputusan. Setiap keputusan yang diambil, akan disusul oleh keputusan-keputuusan lainnya yang berkaitan. Keputusan yang seseorang ambil beraneka ragam. Tetapi ada tanda-tanda umumnya: (1) keputusan merupakan hasil berpikir, hasil usaha intelektual; (2) keputusan selalu melibatkan pilihan dari berbagai alternatif; (3) keputusan selalu melibatkan tindakan nyata, walaupun pelaksanaannya boleh ditangguhkan atau dilupakan. Faktor-faktor personal amat menentukan apa yang diputuskan itu, antara lain kognisi, motif dan sikap. Kognisi artinya kualitas dan kuantitas pengetahuan yang dimiliki. Bila ia tahu bahwa daerah X berbahaya, ia akan memutuskan tidak akan datang ke sana. Motif amat mempengaruhi pengambilan keputusan. Bila seseorang ingin memperoleh posisi yang penting di kantor  X, ia memutuskan untuk bekerja sama dengan Q. Sikap juga faktor penentu lainnya. Bila sikap seseorang negatif terhadap kaum buruh, ia tentu memutuskan untuk tidak menggubris protes mereka. Pada kenyataannya, kognisi, motif, dan sikap ini berlangsung sekaligus.

b.      Memecahkan persoalan (Problem solving)
Beberapa penelitian telah membuktikan pengaruh faktor-faktor biologis dan sosiopsikologis terhadap  proses  pemecahan  masalah. Simpanse yang terlalu lapar tidak mampu memecahkan masalah; simpanse yang setengah lapar mampu memecahkan masalah dengan cepat. Manusia yang kurang tidur mengalami kemampuan berpikir; begitu pula bila ia terlalu lelah. Ini adalah contoh faktor biologis. Sama pentingnya juga adalah faktor-faktor sosiopsikologis yakni sebagai berikut:
1)      Motivasi. Motivasi  yang  rendah  mengalihkan  perhatian. Motivasi yang tinggi  membatasi fleksibilitas. Karena terlalu tegang menghadapi ujian, ia tidak sanggup menjawab pertanyaan pada tes.
2)      Kepercayaan dan sikap yang salah. Asumsi yang salah dapat menyesatkan  seseorang. Bila ia percaya bahwa  kebahagian dapat diperoleh dengan kekayaan material, ia akan  mengalami kesulitan ketika memecahkan penderitaan batinnya.
3)      Kebiasaan. Kecenderungan untuk melihat pola berpikir tertentu, atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas, menghambat pemecahan masalah  yang efesien.
4)      Emosi. Dalam menghadapi berbagai situasi, tanpa sadar seseorang sering terlibat secara emosional. Emosi mewarnai cara berpikir. Seseorang tidak pernah dapat berpikir betul-betul objektif. Sebagai manusia yang  utuh, tidak dapat  mengesampingkan emosi. Sampai di situ, emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu sudah mencapai intensitas yang  begitu tinggi sehingga menjadi stress, barulah menjadi sulit untuk berpikir efisien.

c.       Berpikir kreatif (Creative thinking)
Berpikir kreatif harus memenuhi tiga syarat. Pertama, kreativitas melibatkan  respons atau gagasan yang baru, atau yang secara statistik sangat jarang terjadi. Tetapi kebaruan saja tidak cukup. Syarat kedua kreativitas ialah dapat memecahkan persoalan secara realistis. Ketiga kreativitas merupakan usaha untuk mempertahankan insight yang orisinal, menilai dan mengembangkannya sebaik mungkin (MacKinnon, 1962:485). Ada beberapa faktor yang secara umum menandai orang-orang kreatif (Coleman dan Hammen, 1974:455):
1)      Kemampuan kognitif: termasuk di sini kecerdasan di atas rata-rata, kemampuan melahirkan gagasan-gagasan yang berlainan, dan fleksibilitas kognitif.
2)      Sikap yang terbuka: orang kreatif  mempersiapkan dirinya menerima stimuli internal dan eksternal; ia memiliki minat yang beragam dan luas. 
3)Sikap yang bebas, otonom, dan percaya pada diri sendiri. Orang kreatif tidak senang “digiring” ia ingin menampilkan dirinya semampu dan semaunya, ia tidak terlalu terikat pada konvensi-konvensi sosial.